Sunday, June 3, 2012

Kemelut di Majapahit 2

2
Apa yang diceritakan oleh janda Galuhsari sebelum dia tewas dalam keadaan mengerikan itu kepada anak-anaknya tentang pemberotakan mengerikan itu kepada anak-anaknya tentang pemberontakan Tuban memang benar. Api pemberontakan itu mulai menyala akibat rasa iri hati yang bergolak di dalam dada Sang Adipati Rongo Lawe.

Seperti dituturkan dalam Serat Panji Wijayakrama, Ronggo Lawe adalah putera dari Bupati Sumenep yang bernama banyak Wide, atau Aryo Wirorojo dan kemudian berganti nama menjadi Aryo Adikoro. Ayah dan anak ini merupakan Senopati-senopati Mojopahit yang telah banyak berjasa, terutama terhadap Sang Prabu Kertarajasa Jayawardana semenjak sang prabu belum menjadi raja dan masih bernama Raden Wijaya. Mereka itu merupakan ponggawa-ponggawa yang setia di samping tokoh-tokoh Mojopahit lainnya, terutama sekali Senopati Lembu Sora atau Ken Sora yang berpangkat demang, adik dari Aryo Wirorojo atau paman dari Ronggo Lawe, kebo Anabrang, Raden Nambi dan yang lain-lain.

Setelah Raden Wijaya berhasil menjadi Raja Mojopahit pertama bergelar Kertarajasa Jayawardhana, beliau tidak melupakan jasa-jasa para senopati (perwira) yang setia dan banyak membantunya semenjak dahulu itu membagi-bagikan pangkat kepada mereka. Ronggo Lawe diangkat menjadi adipati di Tuban dan yang lain-lain pun diberi pangkat pula. Dan hubungan antara junjungan ini dengan para pembantunya, sejak perjuangan pertama sampai Raden Wijaya menjadi raja, amatlah erat dan baik.

Akan tetapi guncangan pertama yang memperngaruhi hubungan ini adalah ketika sang prabu telah menikah dengan empat puteri mendiang Raja Kertanegara, telah menikah lagi dengan seorang puteri dari melayu. Sebelum puteri dari tanah Malayu ini menjadi isterinya yang kelima, Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana telah mengawini semua puteri mendiang Raja Kertanegara. Hal ini dilakukannya karena beliau tidak menghendaki adanya Kertanegara itu semua menjadi isterinya sehingga tidak akan timbul dendam dan perebutan kekuasaan kelak. Keempat orang puteri itu adalah Dyah Tribunan yang menjadi permaisuri, yang kedua adalah Dyah Nara Indraduhita, ketiga adalah Dyah Jaya Inderadewi, dan yang juga disebut Retno Sutawan atau Rajapatni yang berarti “terkasih“ karena memang puteri bangsu dari mendiang Kertanegara ini menjadi isteri yang paling dikasihinya. Dyah Gayatri yang bungsu ini memang cantik jelita seperti seorang dewi kahyangan, terkenal di seluruh negeri dan kecantikannya dipuja-puja oleh para sasterawan di masa itu.

Akan tetapi, datanglah pasukan yang beberapa tahun lalu diutus oleh mendiang Sang Prabu Kertanegara ke negeri Malayu. Pasukan ini dinamakan pasukan Pamalayu yang dipimpin oleh seorang senopati perkasa bernama Kebo Anabrang atau juga Mahisa Anabrang, nama yang diberikan oleh sang prabu mengingat akan tugasnya menyeberang (anabrang) ke negeri Malayu. Pasukan ekspedisi yang berhasil baik ini membawa pulang pula dua orang puteri bersaudara. Puteri yang ke dua, yaitu yang muda, bernama Dara Petak dan Sang Prabu Kertarajasa terpikat hatinya oleh kecantikan sang puteri ini, maka diambillah Dyah Dara Petak menjadi isterinya yang ke lima. Segera ternyata bahwa Dara Petak menjadi saingan yang paling kuat dari Dyah Gayatri, karena Dara Petak memang cantik jelita dan pandai membawa diri. Sang Prabu sangat mencintai isteri termuda ini yang setelah diperisteri oleh sang baginda, lalu diberi nama Sri Indreswari.

Terjadilah persaingan di antara para isteri ini, yang tentu saja dilakukan secara diam-diam namun cukup seru, persaingan dalam memperebutkan cinta kasih dan perhatian sri baginda yang tentu saja akan mengangkat derajat dan kekuasaan masing-masing. Kalau sang prabu sendiri kurang menyadari akan persaingan ini, pengaruh persaingan itu terasa benar oleh para senopati dan mulailah terjadi perpecahan diam-diam di antara mereka sebagai fihak yang bercondong kepada yah Gayatri keturunan mendiang Sang Prabu Kertanegara, dan kepada Dara Petak keturunan Malayu. Tentu saja Ronggo Lawe, sebagai seorang yang amat setia sejak jaman Prabu Kertanegara, berfihak kepada Dyah Gayatri. Namun, karena segan kepada Sang Prabu Kertarajasa yang bijaksana, persaingan dan kebencian yang dilakukan secara diam-diam itu tidak sampai menjalar menjadi permusuhan terbuka.

Kiranya tidak ada terjadi hal-hal yang lebih hebat sebagai akibat masuknya Dara Petak ke dalam kehidupan sang prabu, sekiranya tidak terjadi hal yang membakar hati Ronggo Lawe, yaitu pengangkatan patih hamangku bumi, yaitu Patih Kerajaan Majopahit. Yang diangkat oleh sang prabu menjadi pembesar yang tertinggi dan paling berkuasa sesudah raja sendiri itu adalah Senopati Nambi. Pengangkatan ini memang banyak terpengaruh oleh bujukan Dara Petak.

Mendengar akan pengangkatan patih ini, merahlah muka Adipati Ronggo Lawe. Ketika mendengar berita ini dia sedang makan, seperti biasa dilayani oleh kedua orang isterinya yang setia, yaitu Dewi Mertorogo dan Tirtowati. Mendengar berita itu dari seorang penyelidik yang datang menghadap pada waktu sang adipati sedang makan, Ronggo Lawe merah bukan main. Nasi yang sudah dikepalnya itu dibanting ke atas lantai dan karena dalam kemarahan tadi sang adipati menggunakan aji kedigdayaannya, maka nasi sekepal itu amblas ke dalam lantai! Kemudian terdengar bunyi berkerotok dan ujung meja diremasnya menjadi hancur!

"Kakangmas adipati...harap paduka tenang..." Dewi Mertorogo menghibur suaminya.

“Ingatlah, kakangmas adipati...sungguh merupakan hal yang kurang baik mengembalikan berkah ibu pertiwi secara itu...“ Tirtowati juga memperingatkan karena melempar nasi ke atas lantai seperti itu penghinaan terhadap Dewi Sri dan dapat menjadi kualat.

Akan tetapi Adipati Ronggo Lawe bangkit berdiri, membiarkan kedua tangannya dicuci oleh kedua orang isterinya yang berusaha menghiburnya. “aku harus pergi sekarang juga!“ katanya. “Pengawal lekas suruh persiapkan si Mego Lamat di depan! Aku akan berangkat ke Mojopahit sekarang juga!“

Mego Lamat adalah satu di antara kuda-kuda kesayangan Adipati Ronggo Lawe, seekor kuda yang amat indah dan kuat, warna bulunya abu-abu muda. Semua cegahan kedua istrinya sama sekali tidak didengarkan oleh adipati yang sedang marah itu. Tak lama kemudian, hanya suara derap kaki Mego Lamat yang berlari congkalang yang memecah kesunyian gedung kadipaten itu, mengiris perasaan dua orang isteri yang mencinta dan mengkhawatirkan keselamatan suami mereka yang marah-marah itu.

Pada waktu itu, sang prabu sedang dihadap oleh para senopati dan ponggawa. Semua penghadap adalah bekas kawan-kawan seperjuangan Ronggo Lawe dan mereka ini terkejut sekali ketika melihat Ronggo Lawe datang menghadap raja tanpa dipanggil, padahal sudah agak lama Adipati Tuban ini tidak datang menghadap sri baginda. Sang prabu sendiri juga memandang dengan alis berkerut tanda tidak berkenan hatinya, namun karena Ronggo Lawe pernah menjadi tulang punggungnya di waktu beliau masih berjuang dahulu, sang prabu mengusir ketidak senangan hatinya dan segera menyapa Ronggo Lawe.

Di dalam kemarahan dan kekecewaan, Adipati Ronggo Lawe masih ingat untuk menghanturkan sembahnya, akan tetapi setelah semua salam tata susila ini selesai, serta merta Ronggo Lawe menyembah dan berkata dengan suara lantang, “Hamba sengaja datang menghadap paduka untuk mengingatkan paduka dari kekhilafan yang paduka lakukan di luar kesadaran paduka!“

Semua muka para penghadap raja menjadi pucat mendengar ucapan ini, dan semua jantung di dalam dada berdebar tegang. Mereka semua mengenal belaka sifat dan watak Ronggo Lawe, banteng Mojopahit yang gagah perkasa dan selalu terbuka, polos dan jujur, tanpa tedeng aling-aling lagi dalam mengemukakan suara hatinya, tidak akan mundur setapak pun dalam membela hal yang dianggap benar.

Sang Prabu sendiri memandang dengan mata penuh perhatian, kemudian dengan suara tenang bertanya, “Kakang Ronggo Lawe, apakah maksudmu dengan ucapan itu?“

“Yang hamba maksudkan tidak lain adalah pengangkatan Nambi sebagai pepatih paduka! Keputusan yang paduka ambil ini sungguh-sungguh tidak tepat, tidak bijaksana dan hamba yakin bahwa paduka tentu telah terbujuk dan dipengaruhi oleh suara dari belakang! Pengagkatan Nambi sebagai patih hamangku bumi sungguh merupaan kekeliruan yang besar sekali, tidak tepat dan tidak adil, padahal paduka terkenal sebagai seorang Maha Raja yang arif bijaksana dan adil!“

Hebat bukan main ucapan Ronggo Lawe ini! Seorang adipati, tanpa dipanggil, berani datang menghadap sang Prabu dan melontarkan teguran-teguran seperti itu! Muka Patih Nambi sebentar pucat sebentar merah, kedua tangannya dikepal dan dibuka dengan jari-jari gemetar. Senopati Kebo Anabrang mukanya menjadi merah seperti udang direbus, matanya yang lebar itu seperti mengeluarkan api ketika dia mengerling ke arah Ronggo Lawe. Lembu Sora yang sudah tua itu menjadi pucat mukanya, tak mengira dia bahwa keponakannya itu akan seberani itu. Senopati-senopati Gagak Sarkoro dan Mayang Mekar juga memandang dengan mata terbelalak. Pendeknya, semua senopati dan pembesar yang saat itu menghadap sang prabu dan mendengar ucapan-ucapan Ronggo Lawe, semua terkejut dan sebagian besar marah sekali, akan tetapi mereka tidak berani mencampuri karena mereka menghormat sang prabu.

Akan tetapi Sang Prabu Kertarajasa tetap tenang, bahkan tersenyum memandang kepada Ronggo Lawe, ponggawanya yang dia tahu amat setia kepadanya itu, lalu berkata halus, “Kakang Ronggo Lawe, tindakanku mengangkat kakang Nambi sebagai patih hamangku bumi, bukanlah merupakan tindakan ngawur belaka, melainkan telah merupakan suatu keputusan yang telah dipertimbangkan masak-masak, bahkan telah mendapatkan persetujuan dari semua paman dan kakang senopati dan semua pembantuku. Bagaimana kakang Ronggo Lawe dapat mengatakan bahwa pegangkatan itu tidak tepat dan tidak adil?“

Dengan muka merah, kumisnya yang seperti kumis Sang Gatotkaca itu bergetar, napas memburu karena desakan amarah, Ronggo Lawe berkata lantang, “Tentu saja tidak tepat! Paduka sendiri tahu siapa si Nambi itu! Paduka tentu masih ingat akan segala sepak terjang dan tindak-randuknya dahulu! Dia seorang bodoh, lemah, rendah budi, penakut, sama sekali tidak memiliki wibawa...“

“Kakang Ronggo Lawe, tentu engkau tahu pula bahwa kakang Nambi adalah seorang ahli siasat dan ketatanegaraan. “Sang Prabu memotong.

“Memang tukang siasat dia, tukang akal-akalan, akal bulus yang kotor dan busuk. Negara akan celaka kalau patihnya seperti dia yang penuh kelicikan. Dan hamba katakan bahwa pengangkatan ini tidak adil, karena apakah Mojopahit kekurangan orang-orang yang sudah jelas setia dengan jiwa raganya, yang sudah mendarmabaktikan seluruh kehidupannya untuk paduka, yang sudah berjasa besar dalam setiap peperangan?“

“Hemmm...aku mengangkat patih berdasarkan kecakapannya untuk jabatan itu, kakang Ronggo Lawe.“

“Harap paduka mengampuni hamba. Akan tetapi, apabila paduka membutuhkan seorang patih hamangku bumi, seorang pembantu yang boleh diandalkan mengapa paduka mengangkat Nambi? Apakah Paman Lembu Sora kurang cakap? Seandainya paduka menganggap Paman Lembu Sora terlalu tua atau tidak memenuhi syarat, bukankah masih ada hamba? Mengapa justruh si Nambi yang picik itu yang diangkat?“

“Ronggo Lawe, engkau orang kasar yang sudah menjadi gila oleh iri hati!“ Tiba-tiba Nambi tidak dapat menahan dirinya lagi karena telah dihina berkali-kali di depan banyak orang. Kalau tadi dia diam saja adalah karena dia tidak berani ribut-ribut di hadapan sang prabu.“Iri hati katamu? Bukan iri hati, melainkan ingin menegakkan Mojopahit karena kalau engkau yang menjadi patih, kedudukan Mojopahit pasti akan merosot, nama besar dan keagungan sang prabu akan terseret turun oleh kepicikanmu! Siapa yang tidak tahu bahwa Paman Lembu Sora dan aku, ya aku si Rongga Lawe, telah menyerahkan seluruh jiwa raga untuk keagungan sang prabu dan Mojopahit? Kalau tidak ada kami berdua di waktu sang prabu menghadapi tentara Tar-tar, apakah Mojopahit akan dapat terbangun? Jasa Paman lembu Sora ini tidak diperhatikan, dan dikalahkan oleh orang macam engkau!“

Suasana menjadi panas sekali dan kalau tidak ada sang prabu di situ, tentu telah terjadi pertempuran! Sang Prabu memandang dengan penuh kekhawatiran karena kalau sampai terjadi pertarungan antara pembantunya yang setia di depannya, maka selain hal itu amat memalukan, juga akan melemahakan kedudukannya. Maka dengan berbagai usaha dia mencoba untuk meredakan kemarahan Ronggo Lawe, akan tetapi Adipati Tuban ini tetap merajuk dan dengan suara lantang dia berkata. “Hamba tahu bahwa hamba telah melakukan dosa di hadapan paduka dengan sikap hamba ini. Akan tetapi, sikap hamba ini adalah wajar dan kalau hamba akan dijatuhi hukuman, hamba akan menerimanya! Siapa tidak akan meradang melihat betapa si pengecut licik, si penakut Nambi malah memperoleh kedudukan yang paling tinggi! Dan hamba serta Paman Lembu Sora dan para kawan lainnya harus tunduk dan menyembahnya! Keparat Nambi, entah dengan rayuan apa engkau dapat membujuk sang prabu. Kalau engkau hendak menyangkal semua kata-kataku, hayo keluar, pilihlah tempat yang kau sukai, waktu yang kau sukai, setiap saat, kapan saja, di mana saja, Ronggo Lawe siap untuk menghadapimu, menyelasaikan hal ini dengan taruhan nyawa sebagai ksatria! Tidak macam engkau yang hanya pandai bersilat lidah!“

Makin panaslah suasana di situ. Pendeta Brahmana yang diberi isyarat oleh sri baginda, lalu mendekati Ronggo Lawe dan berkata dengan suara halus dan tenang, “Anakmas Adipati Ronggo Lawe, harap suka tenang dan mendinginkan hati dan pikiran, ingatlah baik-baik apakah sikap seperti ini di hadapan sri baginda merupakan sikap yang benar? Dan apakah akibatnya yang akan menimpa para keluarga anakmas dengan sikap seperti ini?“

Para senopati dan pembesar yang hadir membenarkan dan mendukung kata-kata pendeta ini, akan tetapi sia-sia saja karena Ronggo Lawe tetap saja marah-marah dan menantang-nantang Nambi untuk keluar dan menghadapinya sebagai ksatria.

Kebo Anabrang, senopati perkasa yang pemarah, tidak lagi dapat menahan dirinya, menuding telunjuknya kepada Ronggo Lawe dan membentak, “Lawe, manusia kurang ajar kau! Kalau memang kau jantan, mengapa menangtang-nantang di hadapan sang prabu? Keluarlah dan siapkan segala senjata dan kedigdayaanmu di alun-alun!“

Ronggo Lawe menepuk dadanya. “Babo-babo, aku akan menghadapi semua penjilat dan penghianat!“ Adipati Tuban ini meloncat ke luar dan tanpa pamit dia meninggalkan ruang permusyawaratan itu. Dengan mata berapi-api dan muka merah Ronggo Lawe menuju ke alun-alun, menanggalkan bajunya, bertelanjang dada dan sambil meletakkan tangan di atas dahan kayu pohon, dia menanti keluarnya Nambi dan siapa saja yang berani melawannya! Setelah agak lama tidak ada yang keluar, kemarahannya menjadi-jadi dan mulailah Ronggo Lawe merusak tanaman dan merobohkan bangunan di depan istana. Jembangan-jembangan besar dan berat diangkatnya dan dibanting hancur berkeping-keping. Memang hebat tenaga senopati ini, dadanya yang telanjang itu berkilauan karena keringat, bidang dan tegap penuh dengan otot-otot yang menggembung dan kuat, seperti banteng. Matanya yang tajam itu bersinar-sinar dan tiada hentinya dia menantang mencelakakan Mojopahit dengan lidah beracun mereka! Para pengawal dan penjaga di sekitar alun-alun tidak ada penjaga di sekitar alun-alun tidak ada yang berani bergerak, hanya memandang dengan muka pucat dan seorang perwira penjaga cepat melapor ke dalam istana.

Sementara itu, suasana di ruangan balai pertemuan amat sunyi setelah Ronggo Lawe pergi. Semua orang terdiam, menunduk di hadapan Raja Kertarajasa yang berulang kali menghela napas. Kemudian terdengar sang prabu berkata dengan jelas mengandung kedukaan hati, “Paman Demang Lembu Sora, bagaimana pendapat paman dengan adanya peristiwa ini? Apakah sebaiknya Nambi kuturunkan kedudukannya sebagai patih dan mengangkat Lawe menjadi patih hamangku bumi, paman?“

Lembu Sora cepat menyembah. “Hendaknya paduka tidak melakukan hal itu karena bagaimana mungkin paduka menyerah junjungan hamba semua akan menyerah saja kepada kehendak Ronggo Lawe? Hal itu hanya akan merendahkan kedudukan paduka, karena hendaknya paduka ingat akan ketentuan bahwa segala sabda yang dikeluarkan oleh raja tidak dapat tidak harus dilaksanakan. Paduka sudah mengangkat anakmas Nambi sebagai patih, tidak mungkin kalau sabda paduka itu digagalkan hanya oleh ulah tingkah Ronggo Lawe.“

Biar pun Ronggo Lawe adalah keponakannya sendiri, namun Lembu Sora yang bijaksana tidak setuju akan sikap yang diperlihatkan Ronggo Lawe tadi, maka tentu saja dia pun tidak mau mebela keponakannya yang dianggapnya telah keliru dan salah.

Tiba-tiba seorang perwira penjaga datang menghadap dengan sembahnya, dilanjutkan dengan laporan yang diucapkan dengan suara gugup, “Ampunkan hamba... hamba melaporkan bahwa...Adipati Tuban mengamuk di alun-alun, merusak tanaman-tanaman dan merobohkan bangunan di depan istana...,tanaman dicabuti, jembangan dibanting dan dihancurkan...“

Semua orang mengepal tinju mendengar ini. “Perkenankan hamba ke luar dan menghajar pemberontak itu, gusti.“ Kebo Anabrang yang sudah marah sekali itu menyembah, menggigit-gigit bibirnya dan mencancutkan kain, siap untuk melawan Ronggo Lawe.

“Hamba yang menjadi sebab kemarahannya, harap perkenankan hamba menghadapi Ronggo Lawe, Gusti.“ Nambi pun menyembah.

Akan tetapi sebelum sang prabu rapat mengambil keputuan, Senopati Pamandana menyembah dan berkata lantang, “Hamba kira tidaklah selayaknya kalau di alun-alun terjadi pertempuran antara Senopati Mojopahit. Bagaimana kalau ada utusan dari luar yang datang bertamu melihatnya? Hal ini akan membikin suram kecemerlangan nama Kerajaan Mojopahit.“

Sang prabu mengangguk-angguk. “Pendapatmu bijaksana, paman. Akan tetapi, bagaimana sebaliknya harus dilakukan untuk meredakan kemarahan kakang Ronggo Lawe?“

Hening sejenak karena semua senopati juga merasa bingung. Bagaimana harus menghadapi Ronggo Lawe yang marah itu kecuali dengan senjata? Tiba-tiba senopati Singosardulo menyembah dan berkata, “Hamba kira tidak ada seorang pun di antara hamba sekalian di sini yang akan dapat meredakan kemarahan Ronggo Lawe kecuali Paman lembu Sora.““Ah, kau benar!“ Sang prabu berseru girang. “Paman Damang lembu Sora, sekarang ini tiba saatnya engkau memperlihatkan kesetiaanmu yang sudah berkali-kali kau buktikan kepadaku. Kau keluarlah, paman, dan bujuklah si Ronggo Lawe agar dia suka menghentikan amukannya.“

“Hamba akan mencoba sekuasa hamba.“ Lembu Sora menyembah, lalu berpamit dan keluar dari tempat itu, langsung menuju ke alun-alun di mana Ronggo Lawe masih merusak tanaman dan hiasan di depan istana.

Ketika Ronggo Lawe melihat orang keluar dari istana, dia menghentikan amukannya, akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa yang keluar menemuinya adalah pamannya sendiri, Lembu Sora! Hal ini sungguh tidak disangkanya. Pamannya keluar untuk menyambut tantangannya? Tidak mungkin! Tidak mungkin dia berani melawan pamannya yang juga gurunya itu.

Maka begitu Lembu Sora tiba di depannya, denagn kaki lemas Ronggo Lawe lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah, menahan dua titik air mata yang membasahi matanya.

“Aduh paman...,tak perlu paman memarahi saya. Saya sudah tahu betapa saya telah membikin malu kepada paman dengan semua sikap saya. Akan tetapi, tidak kuat hati saya melihat paman yang telah berjasa besar itu dikesampingkan dan dikalahkan oleh seorang macam Nambi.“

“Lawe, mengapa engkau menuruti hati yang kecewa dan marah sehingga engkau telah memperlihatkan sikap yang amat memalukan dan menghina sang prabu? Lupakan engkau akan segala kebaikan sang prabu, bahkan engkau telah dianggap sebagai seorang ponggawa kesayangan dan kepercayaan sang prabu, diperbolehkan ke luar masuk istana dengan bebas siang dan malam. Tidak tahukah engkau betapa sedihnya hati sang prabu, yang biar pun engkau telah bersikap seperti itu tadi masih menyarankan hendak menggantikan kedudukan Nambi dan menyerahkan kursi patih kepadamu?“

Ronggo Lawe menundukkan kepala mendengar ini. Dia mencabut kerisnya, menyerahkan keris pusakanya kepada Lembu Sora sambil berkata, “Duhai paman Lembo Sora...saya menerima salah dan tentu paman datang sebagai utusan sang prabu untuk menghukum saya. Karena paman boleh membunuh saya dan saya tidak akan melawan, paman.“

Lembu Sora menjadi terharus. Teringat dia betapa keponakannya ini telah berjuang bersama dia, menyerbu bermacam-macam musuh untuk membela Kerajaan Mojopahit dan Sang Prabu Kertarajasa, betapa entah sudah berapa kali di dalam medan yuda keponakannya ini menyelamatkan nyawanya dari serangan musuh secara menggelap. Dia menggeleng kepala dan diam-diam dia pun dapat mengerti akan rasa penasaran di dalam hati keponakannya yang berwatak keras ini.

“Lawe lebih baik engkau kembali saja ke Tuban dan ceritakan semua peristiwa ini kepada kakang Wirororjo. Kau dengarkan nasehat ayahmu, anakku, dan jangan kau mengamuk di sini karena pamanmu ini tentu akan merasa dan para Senopati Mojopahit.“

“Jadi paman tidak ingin menghukum saya? Kalau paman tidak sampai hati membunuh saya, baiklah, saya akan pulang, paman. Akan tetapi, setelah terjadi peristiwa ini, hanya ada dua pilihan bagi saya. Yaitu, memberontak atau berhamba lagi kepada sang prabu di Mojopahit. Akan tetapi, kalau saya berhamba lagi, tentu akan terulang kembali peristiwa ini karena paman sendiri tahu betapa sang prabu telah terbujuk oleh suara-suara berbisa yang datangnya dari tanah seberang. Nah, selamat tinggal, paman.“ Ronggo Lawe lalu meninggalkan tempat itu, diikuti pandang mata Lembu Sora yang mengandung kedukaan dan kekhawatiran besar, dan pandang mata para penjaga yang ketakutan dan segera mereka melaporkan ke dalam istana.

Mendengar pelapor para penjaga itu, dengan hati berat terpaksa sang prabu tidak melarang ketika para senopati lalu mengadakan persiapan, menyusun bala tentara untuk sewaktu-waktu digerakkan mengepung dan menggempur Kadipaten Tuban yang dianggap memberontak! Hanya Lembu Sora yang mengikuti semua peristiwa ini dengan keluh kesah di dalam hatinya. Batin orang tua perkasa ini tertekan hebat. Tentu saja dia merasa berat sekali kepada keponakan-keponakan yang tercinta itu, akan tetapi betapa pun juga, dia tidak mungkin membalik muka terhdapat Mojopahit.

 BERSAMBUNG Jilid 3
Kembali

0 komentar

Post a Comment