Monday, June 4, 2012

Kemelut di Majapahit 16

16
 "Maaf, kakang resi. Bukan semata-mata saya tidak percaya. Akan tetapi kiranya mustahil kalau di Nambi berani berbuat seperti itu. Dan mengapa andika tidak melaporkan saja kepada gusti sinuwun, melainkan datang dan mengabarkan hal itu kepadaku? “
“Ahh, mengapa adimas masih bertanya lagi? Ki patih Nambi adalah seorang patih hamengkubumi yang berpengaruh dan berkuasa, sedangkan saya ini apakah? Saya hanya seorang kepala golongan agama yang kecil saja kedudukan saya. Karena Patih Nambi hanya baru merencanakan, tanpa bukti, mana saya berani melapor kepada  gusti sinuwun? Akan tetapi sudah sepatutnya kalau andika curiga atau kurang percaya kepada saya, oleh karena itu sebaiknya andika berhati-hati dan untuk membuktikan kebenaran pemberitahuan saya ini, dapat andika atur kalau andika nanti menghadap ke Mojopahit. Sebaiknya jangan andika datang bersama-sama dengan adi Juru Demung, Gajah Biru dan yang lain-lain. Andika saja seorang diri dan yang lain-lain mengiringkan jauh di belakang sambil melihat gelagat. Kalau tidak terjadi sesuatu, sudahlah, dan anggap saja bahwa saya hanya seorang tua cerewet yang tak dapat dipercaya! Akan tetapi kalau pada saat andika tiba di depan istana lalu muncul Nambi dan para anak buahnya hendak menangkap atau membunuh andika, nah baru teman-teman andika turun tangan membela diri dan membasmi Nambi yang curang dan khianat itu." Lembu Sora mengerutkan alisnya dan termenung. Setelah Mahapati bicara demikian mau tidak mau dia harus percaya juga dan mulailah dia bercuriga kepada Patih Nambi. "Bagus! Memang sebaiknya diatur seperti itu, kakang Lembu Sora!" Juru Demung berkata. "Kalau tidak terjadi apa-apa kita menyerah tanpa syarat. Akan tetapi kalau benar Nambi bertindak curang, kita basmi dia dan sekutunya, kemudian baru kita menyerah kepada gusti sinuwun! “
“Tepat sekali! Aku setuju!" Gajah Biru juga berseru dan yang lain-lain juga menyatakan setuju dengan sikap dan pendapat itu. "Dan percayalah, saya selalu akan membantu andika, adimas Lembu Sora. Dalam  keributan itu tentu saja saya tidak dapat mencampuri, akan tetapi sayalah yang kelak akan membela andika di depan gusti sinuwun setelah andika berhasil membasmi di penghianat Nambi. Sekarang, saya mohon diri, karena tidak baik kalau sampai diketahui kaki tangan Nambi bahwa saya datang berkunjung di sini." Maka pergilah Resi Mahapati setelah menerima ucapan terima kasih dari Lembu Sora dan kawan-kawannya, yang kini menganggap sang resi itu benar-benar seorang yang baik hati dan membela mereka! Setelah sang resi dan para pengawalnya pergi, mereka lalu mengaakan perundingan. "Bagaimana pun juga, biar keterangan-keterangan dari Resi Mahapati agaknya boleh dipercaya, akan tetapi kita harus berhati-hati dan jangan sembrono turun tangan kalau tidak ada buktinya lebih dulu. Aku akan berjalan di depan dan kalian agak menjauh di belakang sambil melihat keadaan, jangan sembarangan turun tangan kalau aku belum memberi tanda, sungguh pun Nambi dan kaki tangannya telah muncul. Harap perhatikan ini, demi ketentraman Mojopahit. “
“Ha-ha-ha. Memang benar sekali! Jangan terlalu percaya kepda manusia macam Resi Mahapati!" tiba-tiba terdengar suara tertawa dan kata-kata yang diucapkan dengan nyaring itu. Lembu Sora terkejut sekali, akan tetapi Juru Demung dan Gajah Biru cepat bangkit dan memandang kearah pintu dengan wajah berseri. Mereka mengenal suara Ki Jembros!  "Kakang Lembu Sora, itulah Ki Jembros seperti yang kami ceritakan kepadamu. Agaknya dia telah keluar dari pertapaannya!" bisik Gajah Biru. "heh-heh-heh, benar juga ucapanmu itu, Raden Gajah Biru! Akan tetapi aku tidak bertapa di gubuk ini, melainkan mengobati luka-lukaku. Untung telah sembuh karena aku harus melindungi kalian di Mojopahit nanti!" Kiranya setelah dahulu bersama muridnya, Sulastri, tiba di tempat persembunyian gajah Biru dan Juru Demung dalam keadaan luka di sebelah dalam tubuhnya akibat adu tenaga melawan Empu Tunjukpetak dan Resi Harimurti. Ki Jembros menyuruh muridnya menyamar sebagai pria dan melanjutan perjalanan seorang diri ke Gunung Bromo untuk mencari eyang gurunya, yaitu Empu Supamandrangi. Sedangkan Ki jembros sendiri lalu membangun sebuah gubuk di hutan itu, dibantu oleh anak buah Juru Demung, kemudian dia memasuki gubug di hutan itu, dibantu oleh anak buah Juru Demung, kemudian dia memasuki gubuk dan berpesan agar siapa pun juga tidak boleh membuka pintu gubuk, bahkan mendekati pun tidak boleh! Tentu saja semua orang yang mengenal kesaktian dan keanehan kakek itu, mentaati dan sampai dua bulan lebih gubuk itu tidak diganggu, bahkan tidak ada yang berani mendekati. Kini, tahu-tahu suara kakek itu terdengar dengan lantang di waktu mereka mengadakan perundingan yang amat penting itu. Lembu Sora terkejut dan kagum bukan main. Kakek itu telah bicara dengan suara demikian jelasnya, padahal orangnya tidak kelihatan, dan dapat mendengar suara Gajah Biru tadi. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa kakek yang bernama Ki Jembros itu benar-benar seorang yang sakti mandraguna! Maka dia pun cepat  berkata dengan hormat, "Kalau memang paduka berkenan membantu kami, saya persilakan paduka untuk menghadiri perundingan kami." Terdengar suara nyaring dan angin menyambar dahsyat dari arah pintu, kemudian tahu-tahu ada bayangan berkelebat dan kakek itu telah duduk di atas sebuah bangku di antara mereka yang sedang berunding! Kini keadaannya menjadi aneh jembel lagi. Selama melakukan perjalanan dengan muridnya, Sulastri yang menyayang gurunya itu masih menjaganya, mencucikan pakaiannya dan seringkali membujuk gurunya untuk mandi. Akan tetapi, selama dua bulan lebih dia berdiam di dalam gubug itu, maka kini begitu muncul, pakaiannya sudah lapuk-lapuk, rambutnya awut-awutan dan kusut, badannya penuh debu dan tanah, kelihatan kotor tiada bedanya dengan seorang jembel. Akan tetapi Lembu Sora tidak pernah menilai manusia dari pakaian atau keadaan lahiriahnya. Dia mengenal manusia sakti, maka cepat dia memberi hormat dan berkata. "Saya Lembu Sora yang bodoh menghaturkan sembah dan hormat kepada paman penembahan yang mulia. “
“Ha-ha-ha-ha! Nama besar Senopati Ki Demung Lembu Sora telah terkenal di seluruh jagad, sedangkan Ki Jembros seorang jembel tua, harap andika jangan terlalu mengangkat tinggi padaku, aku takut kalau jatuh, ha-ha! Makin tinggi kita duduk, makin ngerilah kalau sampai jatuh!" Mereka melanjutkan perundingan dan makin besarlah hati mereka karena Ki Jembros yang ingin sekali bertemu kembali dengan Empu Tunjukpetak dan Resi Harimurti di  samping hendak melindungi Lembu Sora, menyatakan hendak ikut menemani mereka dan akan membantu kalau-kalau benar terjadi seperti yang dikatakan oleh Resi Mahapati tadi, yaitu bahwa Patih Nambi telah memasang perangkap dan akan mencelakakan Lembu Sora dan kawan-kawannya. *** Kita tinggalkan dulu Lembu Sora dan kawan-kawannya yang mengadakan perundingan untuk menghadapi perangkap yang mungkin dipasang oleh Patih Nambi pada saat mereka menghadap ke Mojopahit esok lusa, dan kita mengikuti perjalanan Resi mahapati yang penuh dengan tipu daya dan muslihat licik itu. Setelah meninggalkan Pegunungan Pandan dan tiba kembali di Mojopahit lagsung saja Resi mahapati mohon menghadap sang prabu. Dan begitu dia menghadap sri baginda, Sang Resi Mahapati menghaturkan sembah, lalu berkata, "Mohon ampun bahwa hamba datang menghadap membawa berita yang amat buruk dan berbahaya, gusti sinuwun. Ternyata bahwa dugaan hamba meleset jauh dan Lembu Sora benar-benar hendak berkhianat terhadap Mojpahit!" Berubah wajah sang mata mendengar ini dan cepat dia berkata, "Kakang Resi Mahapati, cepat ceritakan apa yang telah terjadi! “
“Seperginya utusan Rahino membawa surat paduka untuk Lembu Sora, hati hamba merasa tidak enak, maka diam-diam hamba membawa pengawal untuk membayangi perjalanan Rahino yang menuju ke Pegunungan Pandan di mana Lembu Sora, Juru  Demung dan Gajah Biru beserta teman-teman mereka bersembunyi. Hamba membayangi dari jauh dan hamba melihat betapa kemudian utusan paduka itu dibunuh oleh Lembu Sora dan kaki tangannya."
 "Ah, si keparat! Berani membunuh utusan raja?" sang prabu membentak marah.
 "Mereka melemparkan mayat Rahino dan dua orang yang menjadi petunjuk jalan dan dua orang yang menjadi petunjuk jalan ke tempat persembunyian itu. Melihat itu, hamba menjadi marah sekali dan pada keesokan harinya, hamba berkunjung ke tempat Lembu Sora."
 "Hemm, berani sekali andika, kakang resi."
 "Di antara hamba dan adimas Lembu Sora tidak ada permusuhan apa-apa, dan pula, hamba merasa perlu untuk menegurnya. Hamba lalu berjumpa dengan Lembu Sora dan terang-terangan hamba menegurnya, dengan berpura-pura memihaknya, dengan berpura-pura memihaknya dan baik kepadanya. Lalu hamba minta agar dia mengambil keputusan mengenai surat paduka. Ternyata Lembu Sora mengandung maksud yang amat licik. Dia menulis surat balasan untuk paduka dan inilah suratnya, diberikannya kepada hamba."
 Sang prabu membaca surat dari Lembu Sora itu, surat yang tadinya dibawa oleh Rahino, surat yang meyatakan cinta dan baktinya kepada raja dan kepada Negara, surat yang menyatakan bahwa Lembu Sora mentaati semua perintah sang prabu dan bahwa pada hari esok akan menghadap dan meyerah tanpa syarat bersama kawan-kawannya. Membaca surat ini, sang prabu membelalakkan matanya memandang kepada Resi Mahapati dengan marah. "Kakang Resi Mahapati!" Sang prabu membentak. "Apakah andika tahu akan isi surat ini?" Mahapati menggeleng dan menyembah. "Mana berani hamba melihat surat yang dihaturkan kepada paduka. “
“Hemmm, isi surat sama sekali berlainan dengan pelaporanmu, Mahapati. Menurut suratnya, Lembu Sora telah mengakui kedosaannya dan besok pagi akan datang menghadap bersama kawan-kawannya, menyerahkan diri tanpa syarat dan tunduk akan semua keputusan kami. “
“Memang demikianlah yang dikatakan kepada hamba, gusti sinuwun. Dan itulah muslihatnya. Dia pura-pura tunduk, akan tetapi sesungguhnya dia besok datang bersama kawan-kawannya yang bersenjata lengkap dan selagi paduka tidak menyangka, dia dan kawan-kawannya akan mengamuk dan menyerbu! “
“Ah, tidak mungkin!" Sang prabu membentak, lalu memanggil pengawal. "Suruh semua senopati dan ponggawa menghadap! Suruh mereka datang sekarang juga untuk hadir dalam persidangan kilat!" Para senopati, dipimpin oleh Patih Nambi yang terkejut mendengar perintah ini dari para pengawal, tergesa-gesa dan serentak datangmenghadap sri baginda dan  mereka melihat bahwa Resi Mahapati sudah berada di situ, menghadap dengan muka tunduk, sedangkan sang prabu kelihatan marah sekali, mukanya merah dan sinar matanya berapi-api. "Kakang resi, sekarang kau ceritakan lagi pelaporanmu kepada kami tadi, agar didengarkan oleh semua menteri dan senopati," sang prabu bekata dengan suara keren. Dengan tenang Resi Mahapati mengulang kembali ceritanya tadi, tentang kunjungannya kepada Lembu Sora di Pegunungan Pandan. Setelah selesai bercerita, semua menteri menjadi terkejut sekali. "Nah, menurut pelaporan kakang Resi Lembu Sora hendak berkhianat. Akan tetapi coba andika sekalian dengarkan bunyi suratnya ini. Kakang Resi Mahapati, andika kuberi wewenang untuk membaca surat dari kakang Lembu Sora ini dengan suara keras agar semua orang mendengarnya," Dengan sikap masih tenang Resi Mahapati menerima surat yang dilemparkan oleh sri baginda yang marah itu, kemudian membaca isi surat itu dengan lantang dan tenang. Semua orang mendengarkan isi surat yang penuh dengan kesetiaan dan kebaktian, dan mereka semua menjadi makin terheran-heran. Setelah selesai membaca surat itu dan menghaturkan kembali kepada sang prabu, sri baginda berkata lagi, "Nah, kakang resi. Sekarang kemukakan pendapat dan pandanganmu tadi agar dipertimbangkan oleh semua orang."  Resi Mahapati menelan ludah, lalu berkata, "seperti telah hamba bunuh, hamba lalu berpura-pura mengunjungi Lembu Sora sebagai sahabat yang berpihak kepadanya. Karena itu, Lembu Sora mempercaya hamba dan membuka rahasianya bahwa dia membalas surat gusti sinuwun seperti itu hanya merupakan siasat belaka, agar kita semua menjadi lengah. Akan tetapi, besok pagi dia akan datang bukan sebagai orang yang menyerahkan diri tanpa syarat, melainkan hendak mengadakan penyerbuan dengan tiba-tiba ke istana!" Terkejutlah semua orang dan sebagian besar di antara mereka, seperti juga sang prabu sendiri, merasa tidak percaya. "bagaimana pendapat andika, paman Brahmonorojo?" sang parabu bertanya kepada sesepuh itu. Pendeta tua ini menggeleng-geleng kepalanya. "Agaknya sukar dipercaya bahwa seorang seperti anakmas Lembu Sora itu akan melakukan penghianatan seperti itu." Para menteri dan senopati lain banyak pula yang menyatakan tidak percaya. Hanay Patih Nambi saja yang meragu dan berkata, "Hendaknya paduka berhati-hati, gusti sinuwun. Seorang yang telah berani lolos tanpa pamit dari Mojopahit, yang telah berani membunuh seorang teman seperjuangan secara keji dan curang, hamba kita tidak segan-segan pula melakukan kekejian dan pengkhianatan yang lain. Bukan semata-mata kakang Lembu Sora, hanya sebaiknya kalau kita bersikap hati-hati."  "Itulah ucapan yang amat tepat, gusti sinuwun. Memang sangat boleh jadi hamba salah duga, akan tetapi hamba bukan hanya menyangka atau menduga, melainkan hamba mendengar sendiri dari Lembu Sora yang hendak menggunakan muslihat itu. Maka, sebaiknya kalau diatur begini saja, diam-diam diadakan baris pendam di depan istana, dan kalau besok Lembu Sora muncul, dia harus ditangkap dan dihadapkan ke persidangan. Kalau dia tidak melawan, demikian pula kawan-kawannya, berarti bahwa memang hamba yang salah duga atau salah dengar, akan tetapi kalau dia dan kawan-kawannya melakukan perlawanan, jelaslah bahwa memang dia telah bersiap-siap untuk memberontak dan menyerbu istana." Usul ini diterima baik oleh sang prabu, juag semua menteri membenarkan, karena tiada gunanya berbantahan tentang setia atau tidaknya Lembu Sora. Yang terpenting adalah membuktikannya besok. Kalau memang Lembu Sora tidak ada niat memberontak, tentu ditangkap pun dia tidak akan melawan. Kalau dia melawan, berarti memang dia berniat memberontak. "Dan sebaiknya, kalau boleh hamba mengusulkan, agar penilaian terhadap diri Lembu Sora dapat seadil-adilnya, maka tugas penangkapan ini sebaiknya ditangani sendiri oleh Patih Nambi, "kata pula Mahapati setelah melihat betapa usulnya diterima dan dia mulai memperolah kepercayaan kembali. Memang orang ini amat cerdik dan selalu memilih saatnya yang tepat untuk melaksanakan siasatnya yang licin. Tentu saja sang prabu dan semua menteri setuju pula dengan usul ini, bahkan Patih Nambi menerima dengan girang sekali dan pandang matanya kearah Mahapati mengandung terima kasih. Tidak ada tugas yang lebih menggirangkan hatinya  daripada menangkap Lembu Sora yang dibencinya itu.
 Setelah persidangan bubar dan Patih Nambi mempersiapkan pasukan yang pilihan, Mahapati menghampirinya dan berkata, "Tugas andika berat sekali, dimas patih. Selain Lembu Sora sendiri seorang yang amat digdaya, juga saya melihat banyak orang gagah di sarangnya. Maka, kebetulan sekali saya sedang menerima kedatangan tamu-tamu yang sakti, yaitu kakang Empu Tunjungpetak dan kakang Harimurti. Dengan adanya dua orang sakti ini yang membantu, kiranya andika akan dapat melaksanakan tugas itu dengan sebaiknya. Mereka telah saya minta bantuannya dan mereka akan suka membantu dengan senang hati." Tentu saja penawaran ini diterima amat girang oleh Patih Nambi karena dia pun maklum akan kesaktian Lembu Sora dan kawan-kawannya. "Mereka berdua adalah sebagai wakil saya, dimas patih. Tentu saja andika maklum sendiri bahwa saya pribadi tidak mungkin dapat ikut turun tangan, karena tentu saja saya merasa malu berhadapan dengan Lembu Sora." Patih Nambi mengangguk-angguk maklum. "Saya mengerti, kakang resi, dan banyak terima kasih atas bantuan dan kebaikan anda." Demikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Patih Nambi telah mempersiapkan baris pendam di alun-alun depan istana, sedangkan dia sendiri ditemani oleh dua orang kakek sakti, Empu Tunjungpetak dan Resi Harimurti, menanti di pendapa istana dengan hati tegang. Sedangkan tak jauh dari situ, di  atas menara di pinggir pendapa, duduklah Resi Mahapati bersama Lestari, selirnya yang tercinta itu. Selir ini merengek dan membujuk agar dia diberi kesempatan menyaksikan pembasmian para pemberontak itu, dan resi Mahapati yang telah terbius oleh rayuan selirnya, akhirnya memperoleh ijin dari Patih Nambi untuk menonton dari atas menara penjagaan itu! Karena pada hari itu semua abdi dalam dan ponggawa dilarang keluar masuk istana, maka Mahapati dan selirnya dapat naik ke menara tanpa banyak menimbulkan perhatian, dan dua orang itu mengintai dari balik jendela dengan hati berdebar tegang. Mahapati berdebar karena ingin sekali melihat perintang utama kearah tangga kemuliaan yang dikejar-kejarnya itu lenyap, seangkan Lestari yang seperti gila oleh dendam sekeluarganya itu ingin menyaksikan betapa orang-orang yang dibencinya, yaitu semua pembesar Mojopahit yang dianggapnya semua jahat dan kejam terhadap keluarganya itu, saling bunuh di depan kakinya! Matahari mendaki angkasa makin tinggi dan sinarnya amat cerah menerangi bumi. Namun di sedikit bagian bumi itu, di Mojopahit, terutama sekali di istana, ketegangan makin memuncak dan kecerahan sinar matahari tidak dapat mengusir ketegangan yang mengerikan itu, sedikit pun tidak ada tanda-tanda dari alam bahwa hari itu akan terjadi hal yan hebat dan mengerikan di Mojopahit! Tak lama kemudian muncullah Lembu Sora! Mula-mula hnaya terdengar dengan kaki kuda, di kejauhan. Mahapati dan Lestari yang mengintai dari atas menara dapat melihat bahwa Lembu Sora naik kuda dan berjalan di depan, sedangkan agak jauh di belakangnya nampak Juru Demung, Gajah Biru dan lain-lain orang yang jumlahnya ada seratus orang! Mahapati menggosok-gosok kedua tangannya. Siasatnya berhasil baik sekali, semua menurut rencana! Kini hati keduapfihak sudah ada kecurigaan  besar. Lembu Sora tentu menduga bahwa munculnya Patih Nambi akan membunuh dia seanak buahnya, sebaliknya Patih Nambi tentu menduga bahwa Lembu Sora dan anak buahnya itu akan memberontak! Siasatnya memang hebat dan diam-diam Mahapati memuji diri sendiri sambil menonton dari balik jendela, tangannya merangkul pinggang ramping Lestari yang juga mengintai ke bawah dengan jantung berdebar tegang. Lembu Sora menjalankan kudanya perlahan memasuki alun-alun yang kelihatan sunyi, teman-temannya mengiringkan agak jauh di belakangnya. Melihat kesunyian alun-alun, mulailah hati Lembu Sora curiga akan kebenaran laporan Mahapati. Kalau memang Patih Nambi benar-benar hendak menjebaknya, tentu dia dan kawan-kawanya sudah diserang sejak tadi. Akan tetapi, di alun-alun sunyi saja! Dia melompat turun dari kudanya, mencancang kudanya di bawah beringin kurung jalan kaki menuju ke halaman istana. Demikian pula teman-temannya yang terus membayangi Lembu Sora dengan sikap waspada. Di depan rombongan itu berjalan seorang kakek tinggi besar yang tidak dikenal oleh Mahapati. Dia menduga-duga siapa gerangan kakek bercambang bauk yang berpakaian sederhana seperti petani itu.
 Akan tetapi, Patih Nambi terkejut dan dia lalu bangkit berdiri, diam-diam dia mengangkat tangan memberi isyarat kepada pasukan-pasukan yang melakukan baris pendam, kemudian dia melangkah turun dari pendapa istana untuk menyambut  kedatangan Lembu Sora. Ketika Lembu Sora melihat munculnya Ki Patih Nambi bersama dua orang kakek pendeta dari penapa istana, terkejutlah dia, lalu cepat dia maju menghampiri dengan sikap wasapada. Patih Nambi lalu berkata, suaranya dingin dan kaku,
“Lembu Sora, berlututlah engkau untuk kutangkap dan kuhaturkan ke depan gusti sinuwun tawanan!" Sebelum Lembu Sora menjawab, terdegar suara gaduh dan bermunculanlah banyak sekali pasukan dari kanan kiri dan ternyata kini alun-alun itu telah dikurung oleh sedikitnya seribu orang prajurit! melihat ini bukan main marahnya hati Lembu Sora, apalagi ketika dia melihat Patih Nambi tertawa bergelak dengan sikap mengejek, lalu mendengar Nambi berkata,
“Ha-ha-ha, Lembu Sora, hendak kulihat sebetulnya orang macam apa adanya engkau!" Ucapan Patih Nambi ini diterima keliru oleh Lembu Sora yang sudah kemasukan racun pelaporan Resi Mahapati bahwa dia akan dihadang dan dibunuh oleh Patih Nambi. Melihat Nambi muncul dengan seribu orang pasukan, dia kini tidak ragu lagi akan cerita Mahapati itu. Maka dia alu membentak marah,
“Si keparat Nambi, kalau bukan engkau, tentu aku yang akan membanjiri alun-alun Mojopahit dengan darah!" Tentu saja Nambi yang sudah kemasukan racun pelaporan Resi Mahapati bahwa Lembu Sora hanya berpura-pura saja menyerah akan tetapi sebenarnya hendak memberontak,  penghianat hina, memang engkau layak mempus!" Lembu Sora mengeluarkan pekik melengking dahsyat dan inilah tanda bagi Juru Demung, Gajah Biru dan para anak buahnya bahwa mereka benar-benar terjebak dan terpaksa harus membela diri agar jangan mati konyol. Maka bergeraklah semua pengikut Lembu Sora, mencabut parang atau keris masing-masing menghadapi seribu orang pasukan Mojopahit itu! Terjadilah perang tanding yang amat dahsyat di alun-alun depan istana! Lembu Sora mengamuk dan Nambi terpaksa harus mundur dan berlindung di belakang dua orang kakek yang sudah melangkah maju untuk menahan amukan Lembu Sora yang selama waktu pendek saja sudah merobohkan belasan orang perjurit yang hendak menawan atau membunuhnya. Amukannya seperti seekor gajah marah sehingga para perajurit Mojopahit menjadi gentar.
“Plak-plakkkk!!" Tubuh Lembu Sora terdorong ke belakang ketika dua kali tangan kirinya bertemu dengan tangkisan seorang kakek yang tiba-tiba maju dan mencegah dia merobohkan lebih banyak perajurit lagi. Lembu Sora terkejut karena tenaga yang keluar dari tangan kakek itu hebat bukan main. Dia memandang dan membentak marah,
“Andika ini berpakaian pendeta akan tetapi bukan ponggawa Mojopahit! Siapakah andika?”
“Lembu Sora, mengapa engkau tidak berlutut dan menyerah saja? Engkau tidak akan kuat menandingi Empu Tunjungpetak.”
"Bagus kau pendeta keparat kaki tangan Nambi!" Lembu Sora menerjang dengan keris di tangan, menusuk kearah dada kakek itu.
“Dukk!!!" kerisnya terpental dan ternyata kakek itu memiliki kekebalan yang luar biasa!
“Hemm, Lembu Sora, kau takkan menang melawan aku!" Akan tetapi Lembu Sora yang sudah marah itu menubruk maju, mengerahkan aji kesaktiannya pada kepalan tangan kanannya dan menghantam.
“Dessss...!!" Kini kakek itu mundur dua langkah.
“Jagad Dewa Bhatara, kau hebat juga, Lembu Sora!" kata Empu Tunjungpetak dan ketika senopati itu menyerang lagi, dia menangkis dan balas menampar.
“Plakkk!!" Tamparan itu tidak begitu keras, akan tetapi begitu terkena tamparan itu pada pundaknya, tubuh Lembu Sora terpelanting dan sejenak dia tidak mampu bangun karena kepalanya terasa pening. Saat itu dipergunakan oleh empat orang prajurit untuk menyerangnya dengan tombak di tangan.
“Desss-desss-plak-plakkk! Ha-ha-ha-ha!" Empat orang itu terlempar dan reebanting ke atas tanah, tidak mampu bangkit kembali dan di situ telah berdiri Ki Jembros! Kakek ini tadi mengamuk pula sambil terkekeh-kekeh. Sepak terjangnya seperti seorang bocah yang bermain perang-perangan, tertawa-tawa, akan tetapi siapa pun yang kena cium ujung tangan atau kakinya tentu akan terlempar jauh. Biar pun dia  mengamuk dan main-main, Ki Jembros tidak pernah lengah dan selalu memperhatikan Lembu Sora maka begitu Empu Tunjung petak muncul, cepat dia menghampiri dan untung dia tidak terlambat karena nyaris Lembu Sora tewas di ujung tombak empat orang prajurit itu.
“Setan jembros keparat...!" Empu Tunjungpetak berseru kaget dan marah.
“Ha-ha-ha-ha, bertemu lagi di sini. Tunjungpetak, engkau memang lawanku. Hayo, tua sama tua, jangan mencari bocah yang lemah saja!" Ki Jembros berkata dan dia langsung menerjang sambil tertawa-tawa. Empu Tunjungpetak cepat menangkis dan terjadilah pertandingan yang aneh di antara dua orang kakek ini. Dikatakan aneh karena cara mereka berkelahi itu berbeda dengan para prajurit yang sedang mengeroyok dan menggempur anak buah Lembu Sora itu. Para prajurit itu bertanding dengan senjata mau pun tangan, akan tetapi jelas mereka itu menyerang atau menangkis dengan pengerahan tenaga dan kelihatan seru dan ramai. Berbeda dengan mereka, dua orang kakek ini bertempur seperti orang main-main saja. Bahkan jarang kedua lengan mereka saling bertemu, sudah terpental sebelum saling sentuh dan gerakan mereka itu lambat-lambat, seolah-olah yang memukul memanti sampai lawan bersiap-siap dan menangkis menanti sampai lawan memukul! Akan tetapi itu hanya kelihatannya saja. Sebetulnya di antara kedua orang kakek ini menyambar-nyambar hawa maut yang amat dahsyat. Buktinya, ketika ada dua orang prajurit tanpa disengaja mendekati tempat pertempuran itu, tiba-tiba mereka memekik dan roboh terus tewas. Mereka utuh  kena sambaran hawa pukulan sakti yang biar pun tidak mengakibatkan dua orang perajurit itu menderita luka-luka di sebelah dalam tubuh dan mereka tewas seketika! Biar pun Empu Tunjungpetak telah mengeluarkan seluruh kesaktiannya namun tetap saja dia terdesak mundur. Mereka itu saling pukul, akan tetapi setiap pukulan Ki jembros membuat Empu Tunjungpetak mundur tiga langkah sedangkan balasan pukulannya hanya membuat Ki Jembros mundur selangkah sambil tertawa-tawa! jelas dia kalah kuat dan kalah ampuh pukulannya, kalah kebal tubuhnya dan kalau dilanjutkan, Empu Tunjungpetak tentu akan mengalami kekalahan. Melihat ini, Resi Harimurti yang tadinya membiarkan Empu Tunjungpetak menghadapi Ki Jembros sedangkan dia sendiri hanya menonton, meloncat ke depan dan membentak,
“Jembel tau bangka busuk, sekarang tiba saatnya aku membalas dendam!”
“Ha-ha-ha, resi cabul, kau masih hidup? Bagus, majulah biar kukirim kau ke neraka jahanam di mana memang lebih pantas menjadi tempat tinggalmu.”
“Keparat sombong!" Resi harimurti maju dan kedua tangannya sudah mengeluarkan senjatanya, yaitu kipas bambu dan pecut panjang. Dua buah senjata ini adalah senjata-senjata baru karena yang lama telah rusak ketika dia bertanding melawan Ki jembros beberapa bulan yang lalu. Dengan bantuan Resi Mahapati, dia dapat membuat senjata-senjata ini dari bahan yang baik. Melihat temannya mengeluarkan senjata, Empu Tunjungpetak diam saja, akan tetapi dia sendiri hanya menghadapi lawan dengan kedua tangan kosong.
“Ha-haha, pertapa cabul, kalau benar berani, majulah!" kata Ki Jembros sambil menangkis pukulan dari samping yang dilakukan oleh Empu Tunjungpetak. Sebetulnya Empu Tunjungpetak, sebagai seorang ahli pula dalam pembuatan keris, tentu saja mempunyai sebatang keris pusaka ampun, akan tetapi melihat lawan juga bertangan kosong, maka dia segan mengeluarkan senjata, apalagi setelah melihat Resi Harimurti membantunya.
“Tar-tar-tarrr...! Wuuuuutttt... plak-plakkk!" Serangan pecut dan kipas itu ditangkis oleh Ki Jembros sambil tertawa-tawa dan tangkisan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga sakti itu membuat Resi Harimurti terdorong ke belakang. Akan tetapi, Empu Tunjungpetak sudah menerjang lagi dengan dahsyatnya dan kini, menghadapi dua orang lawan yang sama sekali bukan orang-orang lemah melainkan pertapa-pertapa yang sakti, Ki Jembros terpaksa harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya dan terjadilah pertandingan yang amat hebat dan seru, pertandingan yang menyebabkan debu berterbangan dan tercipta pusaran angin karena hawa sakti mereka yang terkandung dalam tiap gerakan sehingga tidak ada perajurit biasa-biasa berani mendekat. Hebat bukan main perang kecil yang terjadi di alun-alun depan keraton itu. Keduanya bertempur dengan mati-matian, karena pihak Lembu Sora menganggap bahwa mereka dikhianati dan hendak dibasmi oleh Patih Nambi, sedangkan pihak Patih Nambi menganggap bahwa Lembu Sora dan kawan-kawannya hendak memberontak dan hendak membunuh sang prabu. Maka kedua pihak melawan mati-matian, sungguh pun  keadaan mereka tidak seimbang sama sekali karena pihak Lembu Sora hanya ada seratus orang lebih sedikit, sedangkan pihak kerajaan yang dipimpin seribu orang pasukan! Yang merasa gembira adalah Mahapati dan selirnya, Lestari. Wanita muda ini dengan senyum manis dan sinar mata berkilat-kilat seperti mata harimau melihat darah, menonton pertandingan itu dan dia mengepal-gepal tangannya yang kecil, dan dari dalam lehernya yang panjang dan indah bentuknya itu terdengar geram-geram kecil seperti orang merintih kenikmatan, seperti orang yang terpuaskan nafsu berahinya.
“Ibu... ibu... Tejo... lihatlah... hemmm... lihatlah... tidakkah puas hati kalian...?”
“Eh, kau bicara apa, manis?" Mahapati merangkulnya dan memandangnya dengan heran. Lestari menggeserkan hidungnya dipipi yang mulai kisut itu, memberi ciuman hangat.
“Paduka hebat! Lihat betapa Lembu Sora dan kawan-kawannya terbasmi! Hati saya girang sekali!”
“eh, giranglah hatimu? kenapa girang melihat pertempuran mengerikan di bawah itu?”
“Mengerikan? Mereka itu merintis jalan yang paling baik untuk paduka, bukan?" Mahapati menarik kepala selirnya dan mencium mulutnya dengan penuh dan mesra.
“Untuk kita, manis, untuk kita berdua!" Dia lalu memandang ke bawah lagi, lupa akan pertanyaannya ketika dia tadi seperti mendengar selirnya menyebut-nyebut
“ibu", dan memang pertempuran di bawah itu sungguh hebat. Ki jembros yang dikeroyok oleh dua orang kawannya itu, oleh Empu Tunjungpetak yang merupakan kakak seperguruannya dan memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi dari padanya, dan oleh Resi Harimurti yang juga tinggi tingkat kepandaiannya, akan tetapi tetap saja Ki Jembros memperhatikan keunggulan dan sama sekali tidak terdesak! Akan tetapi selain Ki Jembros, semua pembantu Lembu Sora termasuk dia sendiri, mulai terdesak hebat. Lembu Sora sudah menderita luka-luka karena dialah yang terkurung dan diserang oleh banyak perajurit yang membantu Patih Nambi, dan Joko Taruno yang kemudian muncul dan ikut mengeroyok untuk membalas kematian ayahnya, Tumenggung Pamandana dan beberapa orang perwira lagi. Namun, tidak pernah senopati yang gagah perkasa ini mengeluh biar pun tubuhnya sudah mulai penuh belepotan darah dan entah sudah berapa banyak perajurit yang roboh oleh keris di tangan kanan kirinya. Dia mengamuk sambil menggereng dan menantang-nantang, bahkan luka-lukanya membuat dia makin beringas, sepak terjangnya makin menggiriskan, seolah-olah darahnya sendiri itu menjadi penambah semangatnya! Juru Demung juga mengamuk dan dia dihadapi oleh senopati Pranarojo yang sakti dan yang juga dibantu oleh banyak perajurit sehingga Juru Demung yang kelihatan letih itu mulai terdesak hebat. Demikian pula Raden Gajah Biru yang dihadapi  oleh Tumenggung Singosardulo dan belasan orang perajurit, sudah terdesak dan menderita luka-luka, sungguh pun dia masih terus bertahan sekuatnya. Yang sudah kelihatan payah adalah para perajurit pengikut Lembu Sora. Mereka itu adalah perajurit-perajurit pilihan dan kalau hanya dikeroyok oleh dua orang perajurit yang dibawa Patih Nambi, agaknya belum tentu mereka kalah. Akan tetapi, perbandingan mereka adalah satu lawan sepuluh! maka biar pun berhasil menjatuhkan lawan masing-masing sedikitnya dua orang, akhirnya mereka sendiri roboh seorang demi seorang sampi akhirnya habis sama sekali! Mereka menggeletak di sana-sini di antara mayat-mayat berserakan dari pihak lawan yang roboh oleh amukan mereka.
“Kakangmas resi...”
“Emmm...?" Resi Mahapati menjawab manja!
“Mereka itu memperlihatkan kegagahannya di sana, mengapa paduka diam saja? Padahal sudah sering kali paduka memamerkan kejantanan paduka kepada saya. Apakah kejantanan paduka itu hanya kalau berada di pembaringan dalam kamar saja?”
“Ihh? Ha-ha-ha, kau belum tahu akan sepak terjang suamimu, cah ayu? Kau lihat Resi Mahapati oleh ejekan kekasihnya itu, maka dipasanglah sebatang anak panah pada gendewanya yang memang telah disediakan dan dipersiapkan kalau-kalau teman-teman di bawah membutuhkan bantuan, maka sejak tadi dia diam saja tidak mau menggunakan gendewa dan anak panahnya. Akan tetapi ejekan kekasihnya membakar hatinya.
“Lihat panahku pertama. Aku akan membunuh Juru Demung dari sini dengan sekali jemparing!" katanya dengan penuh gaya sambil mementang gendewanya dan mengincar kearah mereka yang sedang bertempur di bawah.
“Mana bisa kena tepat? Dia sedang dikepung dan dikeroyok. Jangan-jangan malah mengenai orang lain!”
“Pasti kena dan kalau tepat mengenai dadanya, apa upahnya, sayang?”
“Upahnya?" Lestari tersenyum manis, mencibirkan bibir bawahnya yang merah.
“Upahnya cium satu kali!" Resi Mahapati tertawa, kemudian melanjutkan penarikan tali gendewanya.
“Nah, lihatlah dia roboh, Tari...!" Tali gendewa dilepas, terdengar suara menjepret dan nampak sinar kilat meluncur dan menyambar ke bawah. Sang Resi ini memang terkenal sebagai seorang ahli panah yang amat hebat. Biar pun dalam hal ilmu pukulan dia masih kalah jauh dibandingkan dengan kakak seperguruannya, yaitu Empu Tunjungpetak, akan tetapi dalam hal ilmu sihir panah, dia jauh lebih unggul. Juru Demung memang sudah payah. Seperti juga hanya keadaan Lembu Sora, dia telah menerima banyak tusukan dan bacokan sehingga tubuhnya telah luka-luka. Bahkan lebih parah daripada Lembu Sora. Akan tetapi dia masih terus mengamuk dan tidak  akan menyerah sebelum roboh. Tiba-tiba, sinar kilat anak panah dari atas itu menyambar dan tepat mengenai dada Juru Demung!
“Wirrr...cepp.. aahhhh!" Juru Demung mendekap anak panah yang menancap di dadanya, memandang terbelalak ke atas dan melihat Resi Mahapati berada di menara, dia mengeluarkan suara yang tak dapat dimengerti artinya, lalu roboh terjengkang dan tewas seketika. Di atas menara, Lestari sudah merangkul Resi Mahapati dan ditarik ke dalam agar tidak nampak dari luar, kemudian dengan penuh kegirangan dan kemesraan dia mencium pipi kakek yang merasa amat bangga itu.
“Eehhh, kenapa cium di pipi? Janjinya cium yang mesra, bukan sekedar ambung saja." Lestari tersenyum manja dan berkata,
“Upahnya haruslah sesuai dengan jasanya, kakangmas resi! yang paduka panah hanya seorang yang tidak begitu berharga, maka upahnya pun cukup berharga ditukar dengan ambung pipi kiri. Dan nyawa orang yang mengamuk di bawah itu, siapa namanya tadi, yang kakangmas katakan sebagai adik seperguruan Ronggo Lawe...”
“Raden Gajah Biru?”
“Ya, nah kalau nyawa dia saya mau menukar dengan ambung di pipi kanan.”
“Ha-ha, engkau memang lucu. Nah, lihat betapa panahku akan menghabiskan nyawa Raden Gajah Biru!”
Kembali gendewanya dipentang, anak panah dibidikkan dan setelah gendewa menjepret dan anak panah meluncur ke bawah seperti kilat menyambar, di bawah sana, di antara mereka yang sedang bertanding, terdengar teriakan keras dan robohlah Raden Gajah Biru karena lehernya tertembus anak panah! Tentu saja Lestari menjadi kagum sekali dan dengan kemesraan yang membuar si resi makin bangga hatinya, dia mencium pipi kanan sang resi dengan satu kali kecupan. Watak sang resi, di samping kekejaman dan kecurangannya sebagai akibat dari pengejaran cita-citanya yang setinggi langit, juga dia suka sekali dipuji. Apalagi kalau yang memujinya itu seorang seperti selirnya yang dicintainya itu. Dan seperti watak semua orang yang suka sekali menerima pujian, makin dipuji makin hebatlah dia berusaha untuk memperoleh pujian selajutnya!
“Tari kekasihku, kalau sekarang aku menggunakan anak panahku untuk merobohkan Lembu Sora sendiri, apa upahnya darimu, manis?“
“Dia? benarkah paduka dapat merobohkan dia yang begitu perkasa itu dari sini dengan anak panah?" Tanya Lestari girang.
“Tentu saja. Akan tetapi, aku minta upahnya cium di mulut.”
“Baiklah, kakangmas resi!”
Sekali ini Resi Mahapati agak lama membidikkan anak panahnya, dan lebih kuat pula dia menarik tali gendewanya karena dia pun maklum bahwa merobohkan Lembu Sora dengan anak panah tidaklah semudah dua orang tadi. Kalau saja Lembu Sora belum terluka seperti itu, agaknya malah tidak mungkin dapat mengharapkan panahnya akan mengenai tubuh senopati yang perkasa itu, apalagi melukainya. Akan tetapi, pada saat itu Lembu Sora juga sudah payah sekali, gerakannya sudah mulai mengendur karena banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya dan terutama sekali karena dia melihat bahwa dua orang pembantunya yang setia telah roboh sehingga kini hanya tinggal dia sendiri dan Ki Jembros saja yang masih mengamuk dan dikeroyok!
“Prattt...singgg...!!!" Anak panah yang terlepas dari gendewa di tangan Mahapati kini tak nampak bayangannya, seperti kilat menyambar saja, dan karena Mahapati maklum akan kedigdayaan Lembu Sora, maka yang diarah adalah pusar senopati itu. Memang tidak mudah memanah pusar dari atas, akan tetapi yang diarahnya itu merupakan tempat berbahaya, karena dari tempat dia berdiri, letak pusar sasarannya tertutup oleh ulu hati. Pada saat itu Lembu Sora memang sedang sibuk membela diri dan juga mengirim serangan-serangan balasan yan masih berbahaya. Sebagai seorang yang sakti, dia dapat melihat berkelebatannya sinar dari atas dan mendengar suara mendesingnya anak panah, dan biar pun dia sama sekali tidak sempat lagi mengelak karena dia masih dapat mendoyongkan tubuh atasnya ke belakang dan sinar itu menyambar ke bawah dan mengenai paha kaki kananya.
“Cappp...!”
Tubuh Lembu Sora terhuyung dan dia menengadah. Tampak olehnya Mahapati di atas menara memegang gendewa. Seperti sinar kilat memasuki kepalanya, Lembu Sora kini dapat melihat apa yang kemungkinan besar telah terjadi dan dilakukan oleh Resi mahapati, teringatlah dia akan semua perbuatan dan kata-kata resi itu dari sejak awal terjadinya desas-desus atau berita tentang kematian Kebo Anabrang olehnya, sampai kepada berita-berita selajutnya yang dibawa resi itu dan kunjungan resi itu ke Pegunungan Pandan. Terbukalah matanya dan kini dia mengerti bahwa Resi Mahapati berdiri di balik ini semua, juga pengepungan dan penyerbuan terhadap dia seteman di alun-alun ini tentu akibat siasat sang resi itu!
“Mahapati penghianat...!" Dia berteriak lantang.
“manusia macam engkau kelak akan mati cineleng-celeng (dicincang)!" akan tetapi Lembu Sora tidak dapat melanjutkan kutukannya karena tubuhnya telah dihujani senjata sehingga dia roboh dan tewas. Joko taruno, atau Kebo Taruno putera Kebo Anabrang, cepat meloncat ke depan, menggunakan parangnya yang dicabetkan ke leher musuh besarnya itu, memenggal kepala Lembu Sora sebagai pelaksanaan pembalasan dendamnya. Para perajurit Mojopahit bersorak-sorak menghabisakan sisa anak buah Lembu Sora dan akhirnya hanya tinggal Ki jembros seoarang yang masih terus melawan pengeroyokan dua orang pendeta itu. Senopati Pranarojo yang mencoba untuk membantu dua orang pendeta itu, baru segebrakan saja sudah terlempar sampai bergulingan diserempet hawa pukulan dari tangan Ki Jembros. Melihat ini, tidak ada lagi yang berani mencoba-coba untuk terjun ke gelanggang pertempuran yang  amat dahsyat itu. Setelah mendekap dan mencium mulut Lestari sebagai upahnya merobohkan Lembu Sora, kini Lestari berbisik manja,
“Kakangmas, lihat kakek mengerikan itu yang masih terus mengamuk." Mahapati menjenguk ke bawah dan tertawa.
“Ha-ha, memang kakek itu hebat sekali dan sekarang aku dapat menduga siapa adanya orang itu, seperti yang diceritakan oleh Reksosuro dan Darumuko. Biar aku membantu kakang Empu Tunjungpetak dan kakang Resi Harimurti. Kalau tidak aku yang turun tangan, agaknya sukar merobohkan kakek gila itu," katanya dengan nada suara sombong.
“Kalau benar paduka dapat merobohkan dia...”
“Ha-ha, upahnya...?”
“Upahnya malam nanti..., hi-hik...!" Lestari terkekeh genit dan manja. Mahapati kembali merangkul dan menciumnya.
“Engkau selalu menyenangkan hatiku. Lihatlah baik-baik betapa suamimu akan merobohkan kakek gila di bawah itu. Kau tunggulah saja di sini!" Setelah berkata demikian, Resi Mahapati lalu lari menuruni tangga menara dan berloncatan menghampiri tempat terjadinya pertandingan dahsyat itu yang dikurung oleh para perajurit dari tempat yang agak jauh karena mereka tidak berani mendekat sama sekali. Sambil mengeluarkan pekik melengking yang bukan hanya ditujukan untuk menggetarkan Ki Jembros, akan tetapi terutama sekali agar tedengar dari jendela menara, Resi Mahapati terjun ke gelanggang pertarungan itu membantu Empu Tunjung  Petak dan Resi Harimurti. Dua orang pertapa ini merasa lega dengan masuknya Resi Mahapati karena mereka berdua sudah merasa kewalahan menghadapi Ki Jembros yang benar-benar amat sakti itu, sungguh pun Ki Jembros sendiri juga tidak begitu mudah saja untuk dapat merobohkan mereka berdua yang menggabungkan kekuatan untuk menghadapinya itu. Kini, masuknya Resi Mahapati yang masih segar tenaganya membuat Ki Jembros terkejut dan terdesak. Akan tetapi, kakek ini tidak menjadi gentar malah tertawa bergelak.
“Ha-ha-ha, inilah kiranya yang bernama Resi Mahapati, si pengecut laknat itu! Pantas saja muridku amat membencimu, biar pun belum pernah melihatmu. Kiranya memang wajahmu membayangkan seorang manusia berwatak rendah!"

0 komentar

Post a Comment